Senin, 15 Oktober 2012

Isolasi Alkaloid

Isolasi Alkaloid
Satu-satunya sifat kimia alkaloid yang paling penting adalah kebasaannya. Metode pemurnian dan pencirian ialah umumnya mengandalkan sifat ini, dan pendekatan khusus harus dikembangkan untuk beberapa alkaloid misalnya rutaekarpina, kolkhisina, risinina) yang tidak bersifat basa.  
Umumnya isolasi bahan bakal sediaan galenik yang mengandung alkaloid dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1.      Dengan menarik menggunakan pelarut-pelarut organik berdasarkan azas Keller. Yaitu alkaloida disekat pada pH tertentu dengan pelarut organik. Prinsip pengerjaan dengan azas Keller yaitu alkaloida yang terdapat dalam suatu bakal sebagai bentuk garam, dibebaskan dari ikatan garam tersebut menjadi alkaloida yang bebas. Untuk itu ditambahkan basa lain yang lebih kuat daripada basa alkaloida tadi. Alkaloida yang bebas tadi diekstraksi dengan menggunakan pelarut –pelarut organic misalnya Kloroform. Tidak dilakukan ekstraksi dengan air karena dengan air maka yang masuk kedalam air yakni garamgaram alkaoida dan zat-zat pengotor yang larut dalam air, misalnya glikosida-glikosida, zat warna, zat penyamak dan sebagainya. Yang masuk kedalam kloroform disamping alkaloida juga lemaklemak, harsa dan minyak atsiri. Maka setelai alkaloida diekstraksi dengan kloroform maka harus dimurnikan lagi dengan pereaksi tertentu. Diekstraksi lagi dengan kloroform. Diuapkan, lalu didapatkan sisa alkaloid baik dalam bentuk hablur maupun amorf. Ini tidak berate bahwa alkaloida yang diperoleh dalam bentuk murni, alkaloida yang telah diekstaksi ditentukan legi lebih lanjut. Penentuan untuk tiap alkaloida berbeda untuk tiap jenisnya. Hal-hal yang harus diperhatikan pada ekstraksi dengan azas Keller, adalah :      
a.       Basa yang ditambahkan harus lebih kuat daripada alkaloida yang akan dibebaskan dari ikatan garamnya, berdasarkan reaksi pendesakan.
b.      Basa yang dipakai tidak boleh terlalu kuat karena alkaloida pada umumnya kurang stabil.
c.       Setelah bebas, alkaloida ditarik dengan pelarut organik tertentu, tergantung kelarutannya dalam pelarut organik tersebut.
Alkaloid biasanya diperoleh dengan cara mengekstraksi bahan tumbuhan memakai air yang diasamkan yang melarutkan alkaloid sebagai garam, atau bahan tumbuhan dapat dibasakan dengan natrium karbonat dan sebagainya dan basa bebas diekstaksi dengan pelarut organik seperti kloroform, eter dan sebagainya. Radas untuk ekstraksi sinabung dan pemekatan khusunya digunakan untuk alkaloid yang tidak tahan panas. Beberapa alkaloid menguap seperti,nikotina dapat dimurnikan dengan cara penyulingan uap dari larutanmyang diabasakan. Larutan dalam air yang bersifat asam danmmengandung alkaloid dapat dibasakan dan alkaloid diekstaksim dengan pelarut organik , sehingga senyawa netral dan asam yang mudah larut dalam air tertinggal dalam air. Cara lain yang berguna untuk memperoleh alkaloid dari larutan asam adalah dengan penjerapan menggunakan pereaksi Lloyd. Kemudian alkaloid dielusi dengan dammar XAD-2 lalu diendapkan dengan pereaksi Mayer atau Garam Reinecke dan kemudian endapan dapat dipisahkan dengan cara kromatografi pertukaran ion. Masalah yang timbul pada beberapa kasus adalah bahwa alkaloid berada dalam bentuk terikat yang tidak dapat dibebaskan pada kondisi ekstraksi biasa. Senyawa pengkompleksnya barangkali polisakarida atau glikoprotein yang dapat melepaskan alkaloid jika diperlakukan dengan asam.
2.      Pemurnian alkaloida dapat dilakukan dengan cara modern yaitu dengan pertukaran ion.
3.      Menyekat melalui kolom kromatografi dengan kromatografi partisi.
Cara kedua dan ketiga merupakan cara yang paling umum dan cocok untuk memisahkan campuran alkaloid. Tata kerja untuk mengisolasi dan mengidentifikasi alkaloid yang terdapat dalam bahan tumbuhan yang jumlahnya dalam skala milligram menggunakan gabungan kromatografi kolom memakai alumina dan kromatografi kertas.

http://qiqi-marizha.blogspot.com/2012/05/makalah-alkaloid.html

Rabu, 10 Oktober 2012

Katekin dari Daun Teh (flavonoid)

Teh merupakan tumbuhan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia karena selain dapat dibuat minuman,juga dapat digunakan sebagai pengobatan. Minuman teh yang disajikan umumnya dibuat dari daun muda atau pucuk daun teh (Camellia sinensis L.,) yang sudah dikeringkan dan diseduh dengan air hangat atau mendidih.
Berdasarkan penelitian, kebiasaan minum teh ternyata dapat mencegah nafas bau dan gigi kropos. Kandungan bahan kimia dalam teh dapat membunuh bakteri dan virus yang dapat menyebabkan infeksi tenggorokan,gigi kropos dan gangguan gigi serta rongga mulut lainnya. Hasil isolasi senywa kimia dari daun teh yang dikenal  sebagai keluarga polifenol terutama katekin dan teaflavin dapat membunuh bakteri penyebab gangguan mulut  .
Komponen utama dari teh hijau adalah polisakarida, flavonoid, Vitamin B,C dan E serta komponen katekin. Komponen katekin  banyak berferan sebagai anti kanker. Komponen katekin utama yang ditemukan dalam teh hijau adalah : epigallocatechin (EGC), epikatekin (EC), epigallocatechingallate (EGCG) dan epicatechin gallate ( ECG)(1) .
  • Teh Hijau ( Camellia sinensis L.)
Deskripsi : Teh merupakan minuman yang banyak dikonsumsi kedua di dunia setelah air, khasiat untuk kesehatannya pun sudah banyak ditemukan.Tanaman teh, Camellia sinensis merupakan famili dari theaceae.  Dan Teh hitam , serta teh hijau dihasilkan dari daunnya. Ciri dari tanaman ini adalah semak atau pohon berwarna hijau dan tanaman ini memiliki tinggi sampai 30 kaki namun biasanya dipangkas 2-5 kaki untuk pengolahan. Daunnya berwarna hijau gelap berbentuk oval dengan pinggiran bergerigi , bunganya berwarna putih beraroma ,tumbuh secara bergerombol atau single(2) .
 

Gambar 1. Struktur senyawa polifenol dari daun teh
Zat Aktif : Tidak seperti pada teh hitam, produksi dari teh hijau tidak membutuhkan oksidasi dari daun teh yang muda. Teh Hijau diproduksi dari perebusan daun teh segar pada temperatur tinggi, sehingga menyebabkan enzim pengoksidasinya tidak aktif sehingga kandungan polifenol nya akan tetap ada. Polifenol yang biasanya ditemukan pada tanaman banyak diketahui sebagai flavanols atau katekin. Komponen katekin utama yang ditemukan dalam teh hijau adalah : epigallocatechin (EGC), epicatechin (EC), epigallocatechingallate (EGCG) dan epicatechin gallate ( ECG). Polifenol dari teh hijau menunjukkan efek antioksidan, antikarsinolgenik, antiinflamasi, thermogenic, probiotic serta antikmikroba pada beberapa hewan dan studi in vitro (2).
Mekanisme Aksi :
Efek antikarsinogenik dari polifenol teh hijau utamanya dari EGCG. EGCG dapat menghambat inisiasi dan promosi tumor, unduksi apoptosis serta menghambat kecepatan replikasi sel yang berpengaruh pada pertembuhan dan perkembangan neoplasma. Potensial antioksidan teh hijau secara langsung berhubungan dengan kombinasi cincin aromatis dan grup hidroksil yang membentuk strukturnya yang menyebabkan pengikatan dan netralisasi terhadap radikal bebas oleh grup hidroksilnya.
Polifenol dari teh hijau menghambat produksi dari metabolit asam arakidonat seperti prostaglandin dan leukotrien, sehinggaakan menurunkan respon inflamasi. Studi pada manusia dan binatang menunjukkan kemampuan EGCG untuk memblok respon inflamasi terhadap radiasi UV A dan B serta kemampuan untuk menghambat migrasi neutrofil yang umumnya terjadi pada proses inflamasi.
Meskipun mekansime yang pasti tidak diketahui, katekin dari teh hijau menunjukkan  peningkatan Lactobacilli dan Bifidobacteria pada saat menurunkan aktivitas dari beberapa patogen secara signifikan. Studi juga menunjukkan efek antibakteri dari teh hijau terhadap  berbagai macam bakteri gram positif dan negatif.
  1. Sifat dan Khasiat
Daun berbau aromatic dan sedikit pahit. Berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretic), stimulansia jantung (cardiotonik), menstimulir susunan saraf pusat, penyegar badan, berkhasiat sebagai adstringen pada saluran pencernaan (1).

  1. Kandungan kimia
Daun teh mengandung kafein ( 2-3 % ), theobromin, theofilin, tannin, xanthin, adenine, minyak atsiri, kuersetin, naringenin, dan natural fluoride. Tanin mengandung epichatechin. Setiap 100 gram daun the mempunyai kalori 17 kj dan mengandung 75-80 % air, polifenol 25 %, protein 20 %, karbohidrat 4 %, kafein 2,5 – 4,5 %, serat 27 % dan pectin 6 %. Biji mengandung saponin yang beracun dan mengandung minyak. Kafein mempercepat pernafasan, perangsang kuat pada susunan saraf pusat dan aktifitas jantung. Theofilin mempunyai efek diuretic kuat, menstimulir kerja jantung dan melebarkan pembuluh darah koroner. Theobromin terutama mempengaruhi otot.
Dari hasil penelitian, flavonoid yang merupakan antioksidan polifenol pada the mampu memperkuat dinding sel darah merah dan mengatur permeabilitasnya, mengurangi kecenderungan thrombosis, dan menghambat oksidasi LDL sehingga mengurangi terjadinya proses atherosclerosis di pembuluh darah yang selanjutnya akan mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung koroner (2).

Uraian Senyawa Epicatechin dari daun Teh ( Camelia Sinensis )
  1. Stuktur Senyawa   :

  • Katekin (Polifenol)
Polifenol teh atau sering disebut dengan katekin merupakan zat yang unik karena berbeda dengan katekin yang terdapat pada tanaman lain. Katekin dalam teh tidak bersifat menyamak dan tidak berpengaruh buruk terhadap pencernaan makanan. Katekin teh bersifat antimikroba (Bakteri dan Virus), antioksidan, antiradiasi, memperkuat pembuluh darah, melancarkan sekresi air seni dan menghambat pertumbuhan sel kanker (6) .
Katekin merupakan kelompok utama dari substansi teh hijau yang paling berpengaruh terhadap seluruh komponen teh. Dalam pengolahannya, senyawa tidak berwarna ini, baik langsung maupun tidak langsung selalu dihubungkan dengan semua sifat produk teh, yaitu rasa, warna, dan aroma (6).
Katekin merupakan kelompok terbesar dari komponen daun teh, terutama kelompok katekin flavonoid. Katekin tersitesis dalam daun teh melalui jalur melanic dan asam sikimat. Sedangkan asam galik diturunkan dari suatu produk antara yang diproduksi dalam jalur metabolik asam sikimat (6) .
Gambar 3. Jalur biosintesis katekin dari daun teh

Katekin tanaman teh dibagi menjadi 2 kelompok utama, yaitu proanthocyanidin dan poliester. Katekin teh hijau tersusun sebagian besar atau senyawa – senyawa katekin, epikatekin, galokatekin, epigalokatekin, epikatekin galat, galokatekin galat, dan epigalokatein galat. Konsentrasi katekin sangat tergantung pada umur daun.  Pucuk dan daun pertama paling kaya katekin galat. Kadar katekin bervariasi tergantung pada varietas tanaman tehnya.

sumber : http://hadyherbs.wordpress.com/2011/12/26/katekin-dari-daun-teh/

Jumat, 05 Oktober 2012

FLAVONOID BAGIAN 2

Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986) menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi „alat komunikasi‟ (molecular messenger} dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat positif (menstimulasi).

sumber : http://miftachemistry.blogspot.com/2010/11/senyawa-flavonoid.html

Kamis, 27 September 2012

Flavonoid


Flavonoid adalah senyawa polifenol yang memiliki 15 atom karbon, dua cincin benzena bergabung dengan rantai karbon tiga linier.
Kerangka di atas, dapat direpresentasikan sebagai
C 6 - C 3 - 6 C sistem.
Flavonoid merupakan salah satu kelas yang paling karakteristik dari senyawa dalam tanaman yang lebih tinggi. Flavonoid Banyak mudah diakui sebagai pigmen bunga di keluarga Angiosperm sebagian besar (tanaman berbunga). Namun, kejadian mereka tidak terbatas pada bunga, tetapi mencakup semua bagian tanaman.
Struktur kimia flavonoid didasarkan pada kerangka C 15 dengan sebuah cincin CHROMANE bantalan B aromatik cincin kedua di posisi 2, 3 atau 4.



AURONES (2-benzil-kumaron)
Jembatan oksigen melibatkan atom karbon pusat (C 2) dari 3C - rantai terjadi pada sejumlah agak terbatas kasus, di mana heterosiklik yang dihasilkan dari tipe furan.
Subkelompok Berbagai flavonoid diklasifikasikan sesuai dengan pola substitusi cincin C. Kedua keadaan oksidasi dari cincin heterosiklik dan posisi B cincin yang penting dalam klasifikasi.
Contoh dari 6 sub kelompok utama adalah:
1. Chalcones
2. Flavon (umumnya dalam keluarga herba, misalnya Labiatae, Umbelliferae, Compositae).
Apigenin (Apium graveolens, Petroselinum crispum).
Luteolin (Equisetum arvense)
3. flavonol (umumnya di angiosperma kayu)
Quercitol (Ruta graveolens, Fagopyrum esculentum, Sambucus nigra)
Kaempferol (Sambucus nigra, Cassia senna, Equisetum arvense, Lamium album, Polygonum bistorta).
Myricetin ().
4. Flavanon
5. Anthocyanin
6. Isoflavonoids
Sebagian besar B (flavanon, flavon, flavonol, dan anthocyanin) cincin beruang di posisi 2 dari cincin heterosiklik. Dalam isoflavonoids, cincin B menempati posisi 3.
Sekelompok derivatif chromane dengan cincin B di posisi 4 (4-fenil-kumarin = NEOFLAVONOIDS) ditunjukkan di bawah ini.
Para isoflavonoids dan Neoflavonoids dapat dianggap sebagai flavonoid ABNORMAL.

Isoflavonoids

Berbeda dengan kebanyakan flavonoid lainnya, isoflavonoids memiliki distribusi taksonomi agak terbatas, terutama dalam Leguminosae. Sebagian besar pengetahuan kita tentang biosintesis isoflavonoids berasal dari studi dengan isotop radioaktif, dengan memberi makan berlabel 14 cinnamates C.
Para isoflavonoids tidak berwarna semua. Telah ditetapkan bahwa asetat menimbulkan cincin A dan phenylalamine, sinamat dan turunannya sinamat yang dimasukkan ke dalam cincin B dan C-2, -3, dan -4 dari cincin heterosiklik.
Karena chalcones dan flavanon merupakan prekursor efisien isoflavonoids, migrasi aril dibutuhkan dari B cincin dari posisi mantan 2 atau beta ke posisi 3 atau alpha dari prekursor fenilpropanoid harus dilakukan setelah pembentukan kerangka C 15 dasar.


Contoh isoflavonoid aktif biologis
Rotenone berasal dari akar Derris dan Lonchocarpus daun spesies (Keluarga: Leguminosae)
Ini adalah insektisida dan juga digunakan sebagai racun ikan.
* (Biru): karbon berasal dari metionin.
(Red): karbon berasal dari prenyl (isoprenoid).
Biokimia jalur pembentukan rotenone.
Enam ester rotenoid terjadi secara alami dan diisolasi dari tanaman Derris eliptica ditemukan di Asia Tenggara atau dari tanaman Lonchocarpus utilis atau L. Urucu asli Amerika Selatan.
Rotenone adalah yang paling ampuh. Hal ini tidak stabil dalam cahaya dan panas dan hampir toksisitas semua bisa hilang setelah dua sampai tiga hari selama musim panas. Hal ini sangat beracun untuk ikan, salah satu kegunaan utamanya oleh masyarakat pribumi selama berabad-abad yang melumpuhkan ikan untuk menangkap dan konsumsi. Rotenone Crystalline memiliki LD50 lisan akut 60, 132 dan 3000mg/kg untuk marmut, tikus, dan kelinci (Matsumura, 1985). Karena toksisitas Derris serbuk melebihi dari isi setara rotenone, jelaslah bahwa ester lainnya dalam persiapan minyak mentah memiliki aktivitas biologis yang signifikan.
Keracunan akut pada hewan ditandai oleh stimulasi pernapasan awal diikuti oleh depresi pernafasan, ataksia, kejang, dan kematian oleh pernapasan (Shimkin dan Anderson, 1936). Tindakan anestesi-seperti pada saraf tampaknya terkait dengan kemampuan rotenone untuk memblokir transpor elektron di mitokondria melalui oksidasi menghambat terkait dengan NADH 2, hal ini mengakibatkan blokade konduksi saraf (O'Brien, 1967; Corbett, 1974). Dosis oral diperkirakan fatal bagi seorang 70kg adalah urutan 10 sampai 100g.
Rotenone telah digunakan secara topikal untuk pengobatan kutu kepala, sacbies, dan ektoparasit lainnya, namun debu sangat mengiritasi mata (konjungtivitis), kulit (dermatitis), dan saluran pernapasan bagian atas (rhinitis) dan tenggorokan (faringitis) .
 


sumber :  http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.friedli.com/herbs/phytochem/flavonoids.html

Kamis, 12 Juli 2012

penanganan limbah cair disekitar kita

Berikut adalah beberapa tehnik pengolahan limbah B3 (Setiyono, 2002) antara lain :
        1. Netralisasi (pengolahan secara kimia)
           Proses netralisasi diperlukan apabila kondisi limbah masih berada di luar baku mutu limbah (pH 6-8), sebab limbah di luar kondisi tersebut dapat bersifat racun atau korosif. Netralisasi dilakukan dengan mencampur limbah yang bersifat asam dengan limbah yang bersifat basa. Pencampuran dilakukan dalam suatu bak equalisasi atau tangki netralisasi.
           Netralisasi dengan bahan kimia dilakukan dengan menambahkan bahan yang bersifat asam kuat atau basa kuat. Air limbah yang bersifat asam umumnya dinetralkan dengan larutan kapur (Ca(OH)2), soda kostik (NaOH) atau natrium karbonat (Na2CO3). Air limbah yang bersifat basa dinetralkan dengan asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4), HCI atau dengan memasukkan gas CO2 melalui bagian bawah tangki netralisasi.
        2. Pengendapan
           Apabila konsentrasi logam berat di dalam air limbah cukup tinggi, maka logam dapat dipisahkan dari limbah dengan jalan pengendapan menjadi bentuk hidroksidanya. Hal ini dilakukan dengan larutan kapur (Ca(OH)2) atau soda kostik (NaOH) dengan memperhatikan kondisi pH akhir dari larutan. Pengendapan optimal akan terjadi pada kondisi pH dimana hidroksida logam tersebut mempunyai nilai kelarutan minimum.
          3. Koagulasi dan Flokasi (pengolahan secara kimia)
            Digunakan untuk memisahkan padatan tersuspensi dari cairan jika kecepatan pengendapan secara alami padatan tersebut lambat atau tidak efisien. Koagulasi dilakukan dengan menambahkan bahan kimia koagulan ke dalam air limbah. Koagulan yang sering digunakan adalah tawas (Al2(SO4)3).18H20; FeC13; FeSO4.7H20; dan lain-lain.
           4. Evaporasi (penyisihan komponen-komponen yang spesifik)
Evaporasi pada umumnya dilakukan untuk menguapkan pelarut yang tercampur dalam limbah, sehingga pelarut terpisah dan dapat diisolasi kembali. Evaporasi didasarkan pada sifat pelarut yang memiliki titik didih yang berbeda dengan senyawa lainnya.
            5. Insinerasi
Insinerator adalah alat untuk membakar sampah padat, terutama untuk mengolah limbah B3 yang perlu syarat teknis pengolahan dan hasil olahan yang sangat ketat. Pengolahan secara insinerasi bertujuan untuk menghancurkan senyawa B3 yang terkandung di dalamnya menjadi senyawa yang tidak mengandung B3. Ukuran, desain dan spesifikasi insinerator yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik dan jumlah limbah yang akan diolah. Insinerator dilengkapi dengan alat pencegah pencemar udara untuk memenuhi standar emisi.

Bakteri Thiobacillus ferrooxidans sebagai penanganan limbah pertambangan (Batu Bara)

Salah satu jenis bahan bakar yang melimpah di dunia adalah batu bara. Pembakaran batu bara merupakan metode pemanfaatan batu bara yang telah sekian lama dilakukan. Masalah yang muncul sebagai akibat pembakaran langsung batu bara adalah emisi gas sulfur dioksida. Sulfur yang terdapat dalam batu bara perlu disingkirkan karena sulfur dapat menyebabkan sejumlah dampak negatif bagi lingkungan.
Energi batubara merupakan jenis energi yang sarat dengan masalah lingkungan, terutama kandungan sulfur sebagai polutan utama. Hal ini disebabkan oleh oksida-oksida belerang yang timbul akibat pembakaran batubara tersebut sehingga mampu menimbulkan hujan asam. Sulfur batubara juga dapat menyebabkan kenaikan suhu global serta gangguan pernafasan. Oksida belerang merupakan hasil pembakaran batubara juga menyebabkan perubahan aroma masakan atau minuman yang dimasak atau dibakar dengan batubara (briket), sehingga menyebabkan menurunnya kualitas makanan atau minuman, serta berbahaya bagi kesehatan (pernafasan).
Penyingkiran sulfur pada batubara dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu fisika, kimiawi, dan biologis. Penyingkiran sulfur secara biologis atau biodesulfurisasi adalah metode penyingkiran sulfur dengan menggunakan mikroba yang paling murah dan paling sederhana. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi biodesulfurisasi batubara, yaitu: temperatur, pH, medium nutrisi, konsentrasi sel, konsentrasi batu bara, ukuran partikel, komposisi medium, kecepatan aerasi COÌ, penambahan partikulat dan surfaktan, serta interaksi dengan mikroorganisme lain. Cara yang tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mewujudkan gagasan clean coal combustion melalui desulfurisasi batubara.
Alternatif yang paling aman dan ramah terhadap lingkungan untuk desulfurisasi batubara adalah secara mikrobiologi menggunakan bakteri Thiobacillus ferrooxidans dan Thiobacillus thiooxidans. Penggunaan kombinasi kedua bakteri ini ditujukan untuk lebih mengoptimalkan desulfurisasi. Thiobacillus ferooxidans memiliki kemampuan untuk mengoksidasi besi dan sulfur, sedangkan Thiobacillus thiooxidans tidak mampu mengoksidasi sulfur dengan sendirinya, namun tumbuh pada sulfur yang dilepaskan setelah besi teroksidasi.
Dalam proses penanganan limbah pertambangan secara mikrobiologi menggunakan bakteri Thiobacillus ferrooxidans dan Thiobacillus thiooxidans. Penggunaan kombinasi kedua bakteri ini ditujukan untuk lebih mengoptimalkan desulfurisasi. Thiobacillus ferooxidans memiliki kemampuan untuk mengoksidasi besi dan sulfur, sedangkan Thiobacillus thiooxidans tidak mampu mengoksidasi sulfur dengan sendirinya, namun tumbuh pada sulfur yang dilepaskan setelah besi teroksidasi.

Adanya oksidasi pirit merupakan penyebab utama munculnya permasalahan di lahan sulfat masam. Menurut Dent (1986); Alloway dan Ayres (1997) proses oksidasi pirit pada tanah sulfat masam terjadi dalam beberapa tahap dan melibatkan proses kimia serta mikrobiologi. Mula-mula oksigen terlarut dalam air tanah bereaksi lambat dengan pirit, menghasilkan besi fero (Fe2+) dan sulfat atau unsur belerang. Reaksi tersebut adalah sebagai berikut :
FeS2 + ½ O2 + 2 H+ à Fe2+ + 2 S + H2O
Oksidasi belerang oleh oksigen terjadi sangat lambat, tetapi dengan bantuan bakteri autotrop yang berperan sebagai katalisator, proses berjalan dengan reaksi sebagai berikut:
S + 3/2 O2 + H2O à SO42- + 2 H+
Menurut Anonim (2002b), bakteri tersebut adalah Thiobacillus thiooxidans dan merupakan bakteri chemolithotrophs yang menggunakan S yang tereduksi sebagai sumber energi. Asam sulfat merupakan hasil akhir dari reaksi tersebut dan menyebabkan pH lingkungan disekitarnya 2 atau kurang. Menurut Anonim (2002a) beberapa bakteri pengoksidasi yang toleran terhadap kemasaman adalah Thiobacillus ferrooxidans, Thiobacillus thiooxidans pada pH 2-3, dan Thiobacillus acidophilus pada pH 1,4.
Menurut Breemen (1993), kecepatan penurunan pH akibat oksidasi pirit ditentukan oleh jumlah pirit, kecepatan oksidasi, kecepatan perubahan hasil oksidasi, dan kapasitas netralisasi.
Dari uraian proses oksidasi senyawa pirit diatas terlihat bahwa mikroorganisma (bakteri pengoksidasi) sangat berperan sekali dalam proses oksidasi senyawa pirit, baik sebagai pengoksidasi sulfat maupun besi. Tanpa adanya bakteri sebagai katalisator proses oksidasi secara kimia berjalan sangat lambat. Berdasarkan perhitungan, oksidasi yang disebabkan oleh mikroba beberapa ratus kali lipat lebih besar dibanding oksidasi secara kimia.
Proses oksidasi senyawa pirit dan reduksi dari ion atau senyawa yang dihasilkannya terjadi secara kimia dan biologi.Dalam proses penanganan limbah pertambangan secara mikrobiologi menggunakan bakteri Thiobacillus ferrooxidans dan Thiobacillus thiooxidans. Penggunaan kombinasi kedua bakteri ini ditujukan untuk lebih mengoptimalkan desulfurisasi. Thiobacillus ferooxidans memiliki kemampuan untuk mengoksidasi besi dan sulfur, sedangkan Thiobacillus thiooxidans tidak mampu mengoksidasi sulfur dengan sendirinya, namun tumbuh pada sulfur yang dilepaskan setelah besi teroksidasi.

Sabtu, 30 Juni 2012

NITRIL

Hidrolisis Nitril (Sianida Organik)
Apabila alkil sianida (nitril) dididihkan dengan katalis asam atau basa akan terbentuk asam karboksilat. Pada reaksi ini terbentuk amonia. Persamaan kimianya:
R–CN + 2H2O + HCl → R–COOH + NH3 + HCl
Percobaan pembuatan cuka di Laboratorium 

Hidrolisis nitril
 
Ketika nitril yang dihidrolisis kita dapat menganggap mereka bereaksi dengan air dalam dua tahap - pertama untuk menghasilkan amida, dan kemudian garam amonium dari asam karboksilat.
Sebagai contoh, etannitril akan berakhir sebagai amonium etanoat akan melalui ethanamide.


Dalam prakteknya, reaksi antara nitril dan air akan sangat lambat hingga benar-benar diabaikan. Nitril ini bukan dipanaskan dengan baik asam encer seperti asam hidroklorat encer, atau dengan alkali seperti larutan natrium hidroksida.
Hasil akhirnya adalah sama dalam semua kasus, tetapi sifat yang tepat dari produk akhir bervariasi tergantung pada kondisi yang kita gunakan untuk reaksi. 

Alkali hidrolisis nitril
Nitril dipanaskan di bawah refluks dengan larutan natrium hidroksida. Kali ini, bukannya garam amonium seperti yang akan kita lakukan jika reaksi hanya melibatkan air, kita mendapatkan garam natrium. Gas amonia dilepaskan juga.
Misalnya, dengan larutan hidroksida dan sodium etannitril kita akan mendapatkan natrium etanoat dan amonia.


Amonia terbentuk dari reaksi antara ion amonium dan ion hidroksida. Jika kita ingin asam karboksilat bebas dalam hal ini, kita harus mengasamkan solusi akhir dengan asam kuat seperti asam hidroklorat encer atau asam sulfat. Ion etanoat dalam natrium etanoat akan bereaksi dengan ion hidrogen seperti yang disebutkan di atas
 
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.chemguide.co.uk/organicprops/nitriles/hydrolysis.html
 
masalah:
pada gambar tabung reaksi di masukkan dalam air dingin.adakah pengaruh atau reaksi yang terjadi antara air dingin dan zat?
apakah ada reaksi jika air yang digunakan air dingin atau air hangat?